menu melayang

Jumat, 14 Agustus 2026

Cikal Bakal Perang Kedongdong

 



Syahdan, dua orang adik Sultan Matangaji yang bernama Pangeran Penengah Abu Hayat Suryakusumah/Pangeran Suryanegara I, dan Pangeran Idrus Suryakusumah Jayanegara/Pangeran Aryajayanegara baru pulang dari pesantren.

Saat berada di keraton, kedua putra Sultan Sepuh IV tersebut merasa asing dengan adanya budaya yang tidak sesuai dengan apa yang mereka pelajari dari gurunya. Kondisi keraton yang didominasi orang-orang yang pro dengan Kompeni, dan perubahan budaya yang cenderung menyimpang, membuat Pangeran Suryanegara dan Pangeran Jayanegara keluar dari Keraton.

Banyak para Pangeran yang tidak senang dengan aturan yang ditetapkan, dimana kedudukan Sultan sebagai penguasa politik dihapus. Sultan hanya diberi kedudukan sebagai pengelola kesenian dan adat istiadat yang berjalan selama ini.

Sultan tidak mempunyai wewenang apa-apa, bahkan sampai pengangkatan Pangeran pun praktis tidak bisa, semuanya diatur oleh Belanda. Sebagai gantinya Sultan mendapatkan subsidi atau gaji dan mendapat pensiun dari Pemerintah Kolonial Belanda.

Dengan adanya aturan seperti itu banyak para Pangeran yang tidak mendapat gelar kebangsawannya, dan mereka yang tidak mendapatkan Besluit (SK gelar bangsawan) diharuskan menjadi Abdi Dalem yang ditugaskan terjun ke masyarakat dalam rangka menangani masalah-masalah sosial, dan tanpa mendapatkan gaji dari Pemerintah.

Dua putra Sultan Sepuh IV yang sudah menyandang gelar Pangeran sejak kecil dari ayahnya, lebih memilih keluar dari keraton, karena sudah tidak menemukan kenyamanan di sana.

Keduanya pergi menemui Syaikh 'Abdul Muhyi/Syaikh Muhyidin (gurunya) yang lebih dikenal dengan sebutan Ki Buyut Muji, yang tinggal di sekitar blok Rancang, desa Dawuan (Tengahtani, Cirebon).

Ki Buyut Muji yang di kalangan Kesultanan dikenal dengan Buyut Tuji, adalah seorang ulama Sufi yang masyhur di Cirebon dan sekitarnya, yang memerangi penjajah dengan cara-cara halus.

Selang beberapa tahun kemudian, mereka berdua dinikahkan dengan dua putri dari Ki Buyut Muji.

Pangeran Suryanegara menikah dengan Nyai Layyinah, lalu menurunkan anak cucunya di daerah Mertasinga, dan Pangeran Jayanegara menikah dengan Nyai Jamaliyah (adik dari Nyai Layyinah) kemudian menurunkan anak cucu yang kebanyakan tinggal di daerah Plered, dan sebagian ada yang di Ciwaringin.

Pangeran Suryanegara terkenal ahli ilmu alat (Nahwu, Shorof, Manthiq, Balaghoh, Ma'ani, Bayan) sehingga ahli dalam mengambil Natijah (kesimpulan/keputusan), sementara Pangeran Jayanegara terkenal ahli ilmu Fiqih dan ahli dalam menyusun strategi.

Klop sudah keahlian keduanya sehingga dalam menyusun apapun hasilnya bagus.

Syahdan, keberadaan kedua Pangeran ini diketahui oleh Pangeran Raja Kanoman (Pangeran Suryanegara, Putra Mahkota Sultan Anom IV) yang merasa tertekan saat berada di Keraton sehingga akhirnya pergi menemui mereka.

Mereka bertiga yang sama-sama ahli Syari'at Islam dan anti Kolonial Belanda, kemudian berkumpul bermusyawarah.

Cukup lama mereka berdebat beradu argumen. Ki Buyut Muji yang mendengarkan dari balik pintu tersenyum bangga melihat kecerdasan para putra Sultan Cirebon yang sedang membahas masalah yang sangat menarik.

Inti masalah adalah tentang cara menyikapi dan menghadapi keberadaan penjajah Belanda yang semakin ngelunjak.

Ada dorongan kuat di hati Ki Buyut Muji untuk ikut nimbrung, namun hati kecilnya menolak.

“Biarkan yang muda yang berkarya, mengolah intelektual selagi bisa. Toh, suatu saat kalaupun mentok, mereka akan meminta bantuan yang lebih tua,” bisiknya dalam hati.

Setelah cukup lama mereka berdiskusi, akhirnya dihasilkan suatu kesimpulan dari obrolan tersebut, antara lain:

  • Sepakat perlunya diadakan perlawanan, dengan alasan untuk mengembalikan kedudukan Cirebon sebagai penguasa politik dan penentu kebijakan tradisi yang bersendikan Islam.
  • Sepakat hal ini akan dikonsolidasikan dengan teman-teman santri dan kiyai, seperti Mbah Muqoyyim, Jamaluddin Bukhori, Raden Atasangin, Sya'roni, Pangeran Arya Sukmadiningrat, Syarif 'Abdurrohman (warga keturunan 'Arab yang berda'wah di wilayah Cirebon bagian Timur), dan yang lainnya.
  • Nama asli mereka akan diganti dengan nama sandi, agar gerak-geriknya tidak diketahui baik oleh pihak keraton yang pro Belanda, maupun oleh pihak Pemerintah Kolonial.

Hasil kesepakatan tersebut langsung disebarkan pada teman-teman santri, kiyai, dan saudara secara diam-diam.

Setelah berhasil dihubungi, mereka semua berkumpul kembali di kediaman dua Pangeran tersebut. Tempat pertemuan tersebut kemudian dikukuhkan sebagai Keraton Perjuangan/Keraton Bayangan.

Setelah mereka bermuswaroh, maka tersusunlah sebuah rancangan yang sangat bagus, yakni:

  • Putra Mahkota Raja Kanoman ditunjuk sebagai Panglima tertinggi.
  • Untuk Koordinator lapangan ditunjuk Pangeran Suryanegara.
  • Penyusunan strategi ditunjuk Mbah Muqoyyim dengan dibantu teman-temannya.
  • Daerah ditunjuk Mbah Muqoyyim dengan dibantu teman-temannya.
  • Sebagai pendahuluan, koordinator daerah ditugaskan sebagai pengganggu stabilitas keamanan daerah.

Hari itu juga mereka langsung merubah nama aslinya.

Pangeran Penengah Abu Hayat Suryanegara menjadi Suryajanegara.

Jamaluddin Bukhori diganti menjadi Bagus Jabin.

Raden Atasangin menjadi Rangin (panggilan saat nyantri dulu, singkatan dari Raden Atasangin), lalu dilengkapi dengan Bagus Rangin, dan ada yang memanggilnya Raden Serangin.

Sya'roni dirubah menjadi Serit atau Bagus Serit, julukannya saat masih nyantri, karena Sya'roni itu artinya dua rambut, sehingga dijuluki dengan Serit (Sisir lembut untuk mencari kutu/tuma).

Pangeran Arya Sukma Diningrat dirubah menjadi Arsitem, dan Syarif 'Abdurrohman diganti menjadi Bagus Sidong.

Pangeran Jayanegara diganti menjadi Rancang, karena keahliannya merancang, sehingga sampai sekarang beliau dikenal dengan Buyut Rancang.

Buku Panduan Perjuangan Mujarobat

Landasan strategi mereka dalam perjuangan disusun dalam sebuah buku panduan yang diberi judul Mujarobat singkatan dari Mujahidin poro Ahlul bait/ahli Keraton.

Agar buku itu tidak diketahui orang lain maka penulisnya ditulis dengan nama Arsiqum, dan di dalam buku itu banyak berisi sandi-sandi yang hanya dimengerti kalangan sendiri.

Keraton Perjuangan sebagai Markas Besar

Markas Besar pertama untuk menyusun strategi perang melawan Belanda dan pihak Keraton itu berada di tempat tinggal kedua Pangeran tersebut, yang dikukuhkan menjadi Keraton Perjuangan.

Sampai saat ini nama itu masih melekat di hati masyarakat, sehingga dijadikan sebuah nama blok yaitu Blok Keraton, di komplek masjid Tengahtani.

Kehidupan mereka sehari-harinya adalah sebagai tokoh masyarakat yang disegani, memiliki santri, punya pengajian, dan da'wah ke daerah-daerah.

Mereka rata-rata mempunyai santri banyak, dan Pangeran Raja Kanoman sendiri mempunyai pengaruh kecil di daerah-daerah, seperti di Karawang, Majalengka, Bandung, Sumedang, Cimanuk, dan lainnya.

Meski satu persatu pemimpin pemberontakan itu tertangkap, namun tidak menyurutkan perlawanan terhadap tindakan Pemerintah Kolonial Belanda, seperti yang dialami pewaris takhta Kesultanan Kanoman.

Penulis : Abi Muqoddas Arya Malik Khoirurruman

Blog Post

Related Post

Back to Top